Konsistensi kelenjar yang membesar bisa memberikan informasi tertentu

Konsistensi yang keras seperti batu adalah sugestif untuk karsinoma. Sedangkan yang keras-sedang adalah umum pada proses tuberkulosa atau infeksi menahun dan infiltrasi retikulosis atau leukemia. Proses infeksi akut dan menahun-juga terhitung proses tuberkulosa* menimbulkan penggumpalan kelenjar2.

Apabila kelenjar limfa menladi sarang proses karsinoma maka kelenjar2 bisa juga saling bergumpal satu dengan yang lain, lagi pula gumpalan itu melekat pada jaringan di bawah dan sekitarnya. Pembesaran kelenjar2 yang tidak saling bergumpal, berarti bahwa tiap kelenjar masih tetap tinggal tersendiri. Hal ini adalah sugestif untuk leukemia atau retikulosis.

Jikalau palpasi pada kelenjar menimbulkan rasa nyeri. maka gejala itu menandakan bahwa suatu proses infeksi banal sedang menyerang kelenjar tersebut. Kelenjar yang membesar dan tidak menunjukkan nyeri-tekan adalah khas untuk proses tuberkulosa atau karsinoma.

Bentuk saraf perifir

Palpasi berkas saraf ulnaris, radialis, dan peroneus perlu dilakukan pada tiap orang yang mengeluh perasa protopatiknya terganggu atau jikalau ada paresis pada otot2 lengan dan tungkai atau kontraktur jari2. Pada penyakit Hansen dan neuritis interstitialis, saraf2 perifer menjadi tebal. Pada penyakit tersebut terakhir tidak didapati makula anestetika yang merupakan gejala khas untuk lepra.

Berkas saraf ulnaris mudah diraba di beiakang kondilus medalis os humerus, berkas saraf radialis dapat diraba di bagian medial lengan atas, di bawah otot biseps dan berkas saraf peroneus di sebelah medial kaput os fibula.

  • MENGUJI PERGERAKAN DAN KEKUATAN OTOT

Tiap pasien yang datang kepada dokter dengan keluhan bahwa anggota geraknya lemah atau lumpuh harus diperiksa secara sistematik Untuk praktisnya dapat diberikan satu ringkasan dari mekanisma gangguan pergera(- an. Pergerakan lengan dan tungkai dapat terganggu oleh karena (a) adanya nyeri yang membatasi pergerakan, (b) adanya kelemahan otot primer dan (c) adanya gangguan pada sistema neuromuskulus. Oleh karena itu untuk mengujipergerakan dan kekuatan otot.si pemeriksa harus bertindak sebagai berikut. Pertama, pasien diminta menggerakkan anggota geraknya (gerakan aktif).

Waktu pasien melaksanakan perintah itu, pemeriksa harus meneliti apakah ada faktor nyeri yang membatasi pergerakan aktif itu. Jikalau demikian halnya, maka kemudian si pemeriksa menggerakkan anggota gerak pasien (pergerakan pasif). Cara melaksanakan pergerakan pasif ini terlukis di gambar 34 a dan 34 b.